Hari ini masih terasa berat bagiku, permintaan mama masih selalu terngiang-ngiang di telingaku. Aku teringat percakapan kami seminggu yang lalu.
“Mama punya teman akrab waktu kuliah dulu, dan kamu tau kan kami dulu pernah janji kalau punya anak kelak akan kami jodohkan.” Tutur mama mengawali penderitaan yang kurasakan sekarang. Saat itu aku hanya berpikir santai, ya palingan nanti aku di kenalin sama anaknya teman mama lalu kalau aku merasa gak cocok gak mungkin kan dipaksa. Lagian teman mama kan di Medan sedangkan aku SMA di Sibolga, jadi pasti susah ketemunya, dan aku menyimpulkan bahwa perjodohan ini pasti gak akan berhasil lagipula cowok kan susah diatur, ya otomatis gak mungkin lah dia mau-mau aja dijodohin sama orang yang gak dia kenal. Iya kan? Apalagi aku masih SMA.
“oh, yaudah memangnya kapan mama mau ketemu teman mama plus anaknya? Tanyaku kemudian.
“kemaren mama ditelpon sama suaminya katanya teman mama lagi di rumah sakit dan dia di diagnosis menderita kanker payudara stadium akhir Vi.”
“oh ya? Jadi gimana dong ma? Mama gak jenguk tante itu?” tanyaku. Meskipun aku turut prihatin namun ada sedikit rasa bahagia yang kurasa karena perjodohanku pasti dibatalkan atau setidaknya pasti diundur
“ Ya, mama akan jenguklah. Minggu depan kamu mama jemput ya, dan kita sama-sama ke Medan sambil mengenalkan kamu sama anak tante Maya.”
“ apa? Tapi Vivi kan sekolah ma.” Elakku
“Mama udah izinin kamu sama guru teman mama di sekolah kamu.”
“tapi kan ma…”
“Tolonglah Vi, kali ini aja. Coba kamu yang di posisi mama.” Potong mama sambil memohon pengertianku.
“Iyadeh ma.” Pasrahku
Sekarang disinilah aku, di teras kosku menunggu jemputan mama yang katanya akan datang sejak sejam yang lalu. Sejak tadi aku telepon selalu saja jawabnya sebentar lagi, akhhh kesal sekali rasanya dasar mama gak bisa ontime banget sih, gerutuku dalam hati. Mama akan datang bersama Papa dan dua adikku yang satu laki-laki yang hanya beda dua tahun dariku dan satu lagi perempuan yang masih sangat kecil kira-kira beda 14 tahun dariku. Sebenarnya kami sudah sangat lama tidak bertemu dengan keluarga tante Maya, padahal waktu aku berumur kira-kira empat tahun, kami sering berkunjung ke Medan setiap libur atau keluarga tante Maya yang mengunjungi kami di desa Cerana. Tapi entah kenapa semenjak aku sakit karena terjatuh, kami sudah tidak pernah lagi saling bertemu. Tapi entahlah, aku masih sangat kecil saat itu, bahkan penyebab aku terjatuhpun aku sudah tidak ingat, yang kuingat hanyalah aku sangat takut ketinggian sejak saat itu.
Akhirnya mobil yang kutunggu datang juga. Papa membuka kaca jendela dan menyuruhku langsung masuk ke mobil. Dengan muka masam aku langsung masuk dan duduk bersebelahan dengan kedua adikku yang ternyata sudah terlelap, mereka pasti sangat capek setelah melewati perjalanan 7 jam dari desaku.
“ Sorry ya Vi, tadi Papa kamu kecapean jadi kita berhenti dulu untuk makan dan solat, oh iya kamu udah makan?” Tanya Mama dengan hati-hati.
“ya belumlah. Mama sih bilangnya bentar lagi terus dari tadi, Vivi udah jamuran nih nunggunya.” Gerutuku.
“Ya udah nih Mama beliin keripik sambal kesukaan kamu.” Tawar Mama.
“Dasar Mama….. Vivi kan belum selesai marahnya, kok udah di sogok sih…” sambil mengambil keripik di tangan Mama.
“Hahaha dasar kamu ini, yaudah marah aja sambil makan.” Ejek Papa.
Ya begitulah keluargaku, aku adalah orang yang paling mudah ngambek dan paling mudah dibujuk apalagi lewat kripik sambal, pasti acara ngambek dan marahku langsung gagal, aku juga banyak mintanya ke orangtua mulai dari gudget barulah, laptop barulah, uang bulanan ditambahlah, dan lain-lain sebagainya, dan kedua orangtuaku selalu percaya padaku dan memberikan semua yang kuminta meski kadang udah nangis darah baru dikasih (haha alay). Hal ini sangat bertolak belakang dengan Raka adek cowokku yang paling gokil dan selalu mengalah, dia tidak pernah protes aku dibeliin apa aja sedangkan dia tidak, dia tidak pernah protes meskipun uang jajanku dua kali lipat bahkan lebih dari uang jajannya, mungkin dia mengerti akan perbedaan itu dikarenakan aku sekolah di SMA favorit yang gaya hidupnya sangat berbeda dari desaku, apalagi dia masih SMP. Aku sangat iri padanya, Mama dan Papa tidak pernah mengizinkan dia untuk pergi jauh-jauh dari mereka, dia SMP pun di sana padahal aku mati-matian meminta Papa agar membolehkanku untuk SMP di desaku saja agar tidak berpisah dari teman-teman SD ku tapi Papa dan Mama tidak membolehkannya, aku malah disuruh ke SMP di kota yang menempuh waktu empat jam dari desaku. Jika ditanya siapa diantara kami berdua yang lebih disayang oleh orangtuaku, tentu saja jawabannya pasti Raka meskipun aku tahu didepan kami pasti mereka bilang ‘semua sama saja, kasih sayang orangtua itu sama kepada semua anaknya’ tapi tentu saja mereka lebih dekat dengan Raka karena sejak SMP aku sudah tinggal dengan nenek dari Papa di kota dan SMA aku kos di Sibolga, sedangkan Raka tidak dibolehkan sekolah jauh-jauh padahal diakan anak cowok. Meskipun demikian aku sangat menyayangi Raka, karena sejak kecil kami selalu bersama apalagi sebelum ada Nana.
***
TBC....
Tunggu part selanjutnya ya...😊
“Mama punya teman akrab waktu kuliah dulu, dan kamu tau kan kami dulu pernah janji kalau punya anak kelak akan kami jodohkan.” Tutur mama mengawali penderitaan yang kurasakan sekarang. Saat itu aku hanya berpikir santai, ya palingan nanti aku di kenalin sama anaknya teman mama lalu kalau aku merasa gak cocok gak mungkin kan dipaksa. Lagian teman mama kan di Medan sedangkan aku SMA di Sibolga, jadi pasti susah ketemunya, dan aku menyimpulkan bahwa perjodohan ini pasti gak akan berhasil lagipula cowok kan susah diatur, ya otomatis gak mungkin lah dia mau-mau aja dijodohin sama orang yang gak dia kenal. Iya kan? Apalagi aku masih SMA.
“oh, yaudah memangnya kapan mama mau ketemu teman mama plus anaknya? Tanyaku kemudian.
“kemaren mama ditelpon sama suaminya katanya teman mama lagi di rumah sakit dan dia di diagnosis menderita kanker payudara stadium akhir Vi.”
“oh ya? Jadi gimana dong ma? Mama gak jenguk tante itu?” tanyaku. Meskipun aku turut prihatin namun ada sedikit rasa bahagia yang kurasa karena perjodohanku pasti dibatalkan atau setidaknya pasti diundur
“ Ya, mama akan jenguklah. Minggu depan kamu mama jemput ya, dan kita sama-sama ke Medan sambil mengenalkan kamu sama anak tante Maya.”
“ apa? Tapi Vivi kan sekolah ma.” Elakku
“Mama udah izinin kamu sama guru teman mama di sekolah kamu.”
“tapi kan ma…”
“Tolonglah Vi, kali ini aja. Coba kamu yang di posisi mama.” Potong mama sambil memohon pengertianku.
“Iyadeh ma.” Pasrahku
Sekarang disinilah aku, di teras kosku menunggu jemputan mama yang katanya akan datang sejak sejam yang lalu. Sejak tadi aku telepon selalu saja jawabnya sebentar lagi, akhhh kesal sekali rasanya dasar mama gak bisa ontime banget sih, gerutuku dalam hati. Mama akan datang bersama Papa dan dua adikku yang satu laki-laki yang hanya beda dua tahun dariku dan satu lagi perempuan yang masih sangat kecil kira-kira beda 14 tahun dariku. Sebenarnya kami sudah sangat lama tidak bertemu dengan keluarga tante Maya, padahal waktu aku berumur kira-kira empat tahun, kami sering berkunjung ke Medan setiap libur atau keluarga tante Maya yang mengunjungi kami di desa Cerana. Tapi entah kenapa semenjak aku sakit karena terjatuh, kami sudah tidak pernah lagi saling bertemu. Tapi entahlah, aku masih sangat kecil saat itu, bahkan penyebab aku terjatuhpun aku sudah tidak ingat, yang kuingat hanyalah aku sangat takut ketinggian sejak saat itu.
Akhirnya mobil yang kutunggu datang juga. Papa membuka kaca jendela dan menyuruhku langsung masuk ke mobil. Dengan muka masam aku langsung masuk dan duduk bersebelahan dengan kedua adikku yang ternyata sudah terlelap, mereka pasti sangat capek setelah melewati perjalanan 7 jam dari desaku.
“ Sorry ya Vi, tadi Papa kamu kecapean jadi kita berhenti dulu untuk makan dan solat, oh iya kamu udah makan?” Tanya Mama dengan hati-hati.
“ya belumlah. Mama sih bilangnya bentar lagi terus dari tadi, Vivi udah jamuran nih nunggunya.” Gerutuku.
“Ya udah nih Mama beliin keripik sambal kesukaan kamu.” Tawar Mama.
“Dasar Mama….. Vivi kan belum selesai marahnya, kok udah di sogok sih…” sambil mengambil keripik di tangan Mama.
“Hahaha dasar kamu ini, yaudah marah aja sambil makan.” Ejek Papa.
Ya begitulah keluargaku, aku adalah orang yang paling mudah ngambek dan paling mudah dibujuk apalagi lewat kripik sambal, pasti acara ngambek dan marahku langsung gagal, aku juga banyak mintanya ke orangtua mulai dari gudget barulah, laptop barulah, uang bulanan ditambahlah, dan lain-lain sebagainya, dan kedua orangtuaku selalu percaya padaku dan memberikan semua yang kuminta meski kadang udah nangis darah baru dikasih (haha alay). Hal ini sangat bertolak belakang dengan Raka adek cowokku yang paling gokil dan selalu mengalah, dia tidak pernah protes aku dibeliin apa aja sedangkan dia tidak, dia tidak pernah protes meskipun uang jajanku dua kali lipat bahkan lebih dari uang jajannya, mungkin dia mengerti akan perbedaan itu dikarenakan aku sekolah di SMA favorit yang gaya hidupnya sangat berbeda dari desaku, apalagi dia masih SMP. Aku sangat iri padanya, Mama dan Papa tidak pernah mengizinkan dia untuk pergi jauh-jauh dari mereka, dia SMP pun di sana padahal aku mati-matian meminta Papa agar membolehkanku untuk SMP di desaku saja agar tidak berpisah dari teman-teman SD ku tapi Papa dan Mama tidak membolehkannya, aku malah disuruh ke SMP di kota yang menempuh waktu empat jam dari desaku. Jika ditanya siapa diantara kami berdua yang lebih disayang oleh orangtuaku, tentu saja jawabannya pasti Raka meskipun aku tahu didepan kami pasti mereka bilang ‘semua sama saja, kasih sayang orangtua itu sama kepada semua anaknya’ tapi tentu saja mereka lebih dekat dengan Raka karena sejak SMP aku sudah tinggal dengan nenek dari Papa di kota dan SMA aku kos di Sibolga, sedangkan Raka tidak dibolehkan sekolah jauh-jauh padahal diakan anak cowok. Meskipun demikian aku sangat menyayangi Raka, karena sejak kecil kami selalu bersama apalagi sebelum ada Nana.
***
TBC....
Tunggu part selanjutnya ya...😊
Tidak ada komentar:
Posting Komentar