Sabtu, 24 Oktober 2015

Seriously Curious

           Sebenarnya ini ff aku bikin karena aku nge fans pake banget sama IU dan Yoo Seungho. Mungkin masih banyak kesalahan atau kurang menarik karena ini ff pertamaku... Tapi meski begitu, semoga tetep suka ya readers...(ngarep....)

             Hari ini aku masih melakukan aktfitas yang sama seperti biasanya. Pergi ke sekolah, pulang ke rumah, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Yah, cukup membosankan memang. Tapi beginilah hari-hariku apalagi sekarang aku masih siswa SMA tahun pertama. Namaku Lee Ji Eun, aku sangat suka menyendiri. Aku bahkan tidak pernah memiliki seorang teman pun di sekolah ini padahal ini sudah hampir satu semester. Tapi itu tak masalah bagiku, aku senang sendiri jadi tidak akan ada yang menggangguku. Saat anak-anak lain menghabiskan waktu di kantin, bergosip dengan yang lainnya, atau bermain hal lain dengan teman-teman mereka saat istirahat, aku akan lebih senang menghabiskan waktuku di perpustakaan membaca buku sambil mendengarkan music dengan headseat yang selalu kupasang ditelingaku pertanda aku tak ingin diganggu.
Semua berjalan lancar bagiku meski aku tak punya teman, bukan karena mereka menjauhiku. Sebenarnya aku cukup populer meski tak memiliki wajah yang terbilang sangat cantik, namun aku tergolong cewek yang dipopulerkan lelaki di sekolahku apalagi dengan kepintaranku. Bagiku mereka hanya butuh teman saat ujian untuk saling kerjasama (tentu saja aku tak butuh karena aku bisa mendapat nilai terbaik dengan kemampuanku tanpa teman), untuk bergosip (aku juga tak butuh karena itu hanya akan membuang waktuku), shopping dan bermain di luar sekolah (aku juga tak tertarik dengan hal itu). Banyak yang memberikan surat cinta di lokerku, entah mengapa karena aku jarang berinteraksi dengan orang lain, jadi jarang ada yang berani menyatakan cinta langsung kepadaku, bahkan teman sekelasku hanya akan berbicara padaku bila ada yang penting saja. Hal ini karena aku selalu menolak saat mereka ingin mendekatiku, karena bagiku aku tak butuh mereka sama sekali. Dan tidak jarang aku mendengar mereka mengataiku ratu sombong, putri es, si penyendiri, atau apalah, aku tak terlalu peduli, aku hanya perlu memasang headseat ku dan mendengarkan lagu kesukaanku.
Hari ini ujian semester genap telah dimulai, itu tak terlalu masalah bagiku, aku yakin nilaiku akan tetap yang tertinggi, guru-guru di sekolahku bahkan selalu memujiku. Dan di semester selanjutnya aku akan memiliki kelas baru dan teman sekelas baru lagi, jadi aku tak perlu melihat orang-orang di kelas ini lagi, aku sudah bosan melihat mereka yang pura-pura baik padaku, sok mencari perhatianku. Aku benci hal itu. 
“jieun-na, kau pasti sudah belajar giat kan?, kau pasti lelah semalaman begadang untuk membahas soal-soal membosankan ini, iya kan? Kalau begitu ayo makan bersama kami saja nanti ya sambil membahas soal lain.” Lihatlah betapa mereka ingin memanfaatkanku.
“tidak juga, aku senang mengerjakan soalnya. Dan aku tidak tertarik makan bersama kalian” jawabku singkat sambil berlalu ke kelas.
“liihatlah betapa sombongnya dia, huh.. dia pikir dia bisa hidup seperti itu terus. Dasar…”
“dia bahkan mengabaikan ratu sekolah ini” kata yang lainnya.
Aku bisa mendengarnya dengan jelas karena mereka memang sengaja mengeraskan suara mereka aku yakin itu. Ratu sekolah? Ya dia memang sangat cantik dan populer di kalangan cowok, dan kudengar dia juga pacaran dengan senior ketua klub basket, untuk apa cantik kalau otak kosong. huh dia tidak tahu saja kalau lelaki yang jadi pacarnya itu pernah memohon-mohon untuk jadi pacarku. Tapi tentu saja aku takkan pernah peduli, karena aku tahu bagi lelaki kaum perempuan hanya untuk bahan banggaan kepada semua orang bahwa mereka bisa mendapatkan seseorang yang sangat populer jadi mereka akan dengan bangga mengenalkannya kepada teman-teman dan seluruh sekolah “aku mendapatkannya” aku yakin begitulah pemikiran mereka. Jadi, aku takkan pernah dengan mudah memberikan cintaku pada mereka, kaum lelaki hanya akan mengejar-ngejarmu, lalu setelah dapat mereka hanya akan mengatakan ‘ternyata sangat mudah mendapatkannya’ dan tidak akan menghargai kita seperti sebelumnya. Bukankah itu mejijikkan.

Hari ini tahun ajaran baru telah dimulai, seperti dugaanku nilaiku adalah yang tertinggi, tidak hanya di kelasku tetapi juga satu angkatanku. Dan hari ini adalah hari baruku di kelas baruku. Aku benci hari pertama sekolah seperti ini dimana semua orang akan melakukan sesi perkenalan yang menurutku sangat tidak penting dan membuang waktu. Tapi apa boleh buat….
Sesampainya di kelas akupun menduduki kursi yang paling depan, tepat di depan guru. Meskipun ketika aku datang sudah banyak yang datang tentu saja kursi ini tidak akan diisi karena tidak akan ada yang menginginkan duduk di depan guru, mereka beranggapan kalau itu sangat menegangkan, tapi tentu saja tidak bagiku karena aku sangat menguasai semua pelajaran, jadi itu menyenangkan bagiku. Saat bel masuk sudah berbunyi, ada seorang namja yang berlari dan duduk di kursi sebelahku dengan tergesa-gesa. Aku hanya bengong melihatnya dan memandanginya dengan tatapan bertanya ‘apa yang kau lakukan?’ dia yang menyadari hal itu langsung mengatur napasnya dan menyapaku. Semua mata tertuju pada kami, apalagi mantan teman sekelasku yang sekarang juga teman sekelasku mereka tahu persis kalau aku tidak suka berbagi meja dengan siapapun karena saat kelas satu tidak ada yang berani duduk di sebelahku karena selalu kucuekin. 
“annyeong, Yooseungho-imnida” sapanya sambil memperkenalkan diri.
Aku masih menatapnya dengan pandanganku dan tatapan tak suka. “kenapa kau duduk di sini?” tanyaku ketus. Semua orang seakan menonton adegan kami ini entah apa sebabnya. Seharusnya mereka duduk di kursi mereka masing-masing karena sebentar lagi guru pasti datang.
“ah sudah kuduga dia akan mengatakan itu pada Seungho”, “bahkan kepada Seungho???”, “wahhh benar-benar es” kudengar yang lainnya berbisik-bisik, namun seperti biasa ‘aku tak peduli’.
“tentu saja duduk di kursi baruku” jawabnya santai sambil meletakkan tasnya.
“kenapa harus di sini?” tanyaku lagi
“memangnya aku bisa duduk dimana lagi?” tanyanya sambil memutar kepalanya ke seluruh ruangan menandakan tak ada kursi kosong selain di sampingku.
Aku hanya mendengus kesal, dan saat aku melihat ke seluruh ruangan aku masih mendapati teman-teman sekelasku memperhatikan kami terutama para yeoja. Ada yang berkomentar ‘kasihan sekali seungho harus duduk dengan putri es yang irit bicara itu’, ‘dia memang tampan, aku sangat beruntung sekelas dengannya’, ‘wah seharusnya dia duduk di sampingku’. Aku bahkan bisa mendengar suara itu.
” Lalu siapa namamu?” tanyanya padaku. Aku hanya diam dan melihat ke arah guru yang sudah datang. 
Ting tong ting…. Bel istirahatpun berbunyi, semua siswa langsung berhamburan ke kantin,
 “ oh jadi namamu lee ji eun ya?, senang bekenalan denganmu ji eun-na.” tuturnya dengan penuh senyum ke arahku.
 “aku memang pernah mendengarmu, apakah kau tau orang-orang mengataimu putri es, si sombong, si ini itu, dan masih banyak lagi.” Sambungnya panjan lebar.
 “lalu apa pedulimu?” balasku sambil mengambil headseat dan handphone di tasku dan segera berdiri.
 “tentu saja dulu aku tak peduli, tapi sekarangkan kau adalah teman semejaku, bagaimana mungkin aku tak peduli.” Jawabnya. 
“ urusi saja urusanmu, aku tak perlu rasa pedulimu.” Jawabku lagi sambil berjalan keluar kelas. “huh, dia betul-betul dingin tidak sopan dan irit bicara” gumam seungho lalu ia berjalan ke kantin.
Pelajaran selanjutnya adalah olahraga, kami semua langsung berganti baju dan pergi ke lapangan. Setelah pemanasan maka perempuan bermain bola volley dan laki-laki bermain bola basket, dan seperti biasa aku lebih memilih duduk di bawah pohon di pinggir lapangan menonton mereka sambil memakai hadseatku, tenang saja tidak ada guru saat pelajaran ini mereka hanya memberi arahan lalu pergi saat kami bermain karena semua anak pasti sangat senang melakukan olahraga jadi tidak perlu dipantau, namun tiba-tiba saja para siswi di kelasku bukannya bermain volley tapi malah heboh meneriakkan nama Seungho dan menonton basket dengan sangat antusias, hal itu membuatku merasa terganggu dan mulai memperhatikan apa yang dilihat mereka. Yang benar saja, apa dia begitu populer, tapi dia memang lumayan tampan sih dan jago bermain basket. Tanpa kusadari aku juga malah terus memperhatikannya karena dia sangat lihai dalam memantulkan dan melakukan shoot. Setelah melakukan shoot dengan gaya lay up dia tersenyum ke arah para perempuan yang mungkin sudah membuat fans club untuknya, huh dasar sok selebritis.
“kenapa kau tadi duduk sendirian di bawah pohon?” tanyanya sesampai di kelas
“memangnya aku harus duduk di mana? Di deretan para gadis yang meneriakkan namamu?” jawabku sinis.
“hahaha… aku memang begitu populer.” Balasnya sambil tersenyum dan mengelus rambutku.
“jangan menyentuhku.” Teriakku sambil menepis tangannya.
“kenapa? Kau takut rambutmu berantakan ha?” jawabnya singkat
“tidak, pokoknya jangan sok dekat denganku.” Balasku ketus 
“kenapa? Kau tidak kesepian selalu sendirian?” 
“itu bukan urusanmu”
“bukankah sudah kubilang kau ini urusanku sekarang karena kita teman sekelas dan duduk di samping mejaku”
“bukankah sudah kubilang aku tidak memerlukan rasa pedulimu?”
“terserahlah, yang penting kau adalah temanku, arasso?”
“molla, yang penting kau bukanlah temanku.” Jawabku
“aishhh dasar kau ini, terserahlah.” Lalu dia mengambil HP ku yang terletak di atas meja.
“hey apa yang kau lakukan?” teriakku sambil meraih HP ku, tapi dia malah berdiri dan mengangkat HP ku sehingga aku tak dapat menjangkaunya karena dia lebih tinggi dariku. Lalu aku hanya dapat menarik-narik bajunya sambil memarahinya.
 “ cepat kembailikan, dasar tidak sopan, bagaimana bisa kau mengambil HP orang lain!” teriakku setelah lelah mengejarnya di kelas karena dia terus berlari dan tidak mau mengembalikan HP ku. Semua orang menatap kami heran, karena aku jarang sekali memperlihatkan emosiku, aku biasanya hanya akan diam atau mengeluarkan kata-kata tajam yang sangat menusuk dengan ekspresi datarku. Tapi ternyata dia malah membuatku sangat marah dan berteriak di kelas sampai mengejar-ngejarnya segala.
“kau juga tidak sopan karena terus mengabaikanku.” Jawabnya tidak kalah dariku
“tapi kau benar-benar keterlaluan.” Balasku
“ini kukembalikan, aku hanya menulis no HP ku, kita kan teman jadi harus saling punya no HP.” Jawabnya sambil mengembalikan HP ku.
“aku tidak memerlukannya, dan jangan melakukan hal-hal diluar batas seperti ini.” Sambil mengambil HP ku dengan kasar darinya dan kembali ke tempat dudukku karena bel sudah berbunyi.
“wah, kau sudah gila ya. Bagaimana bisa kau berbuat demikian padanya? Apa kau tahu dia itu si jenius putri es yang dingin?” bisik Taemin pada Seungho
“aku bahkan sekelas dengannya kelas 1, tapi aku tak pernah berbicara dengannya, bagaimana bisa kau seberani itu?” Tanya yang lainnya.
“memangnya kenapa? Dia juga manusia, bahkan dia cewek, kenapa aku harus takut.” Jawab Seungho santai dan duduk di kursinya karena guru sudah datang.
Aku masih memasang muka kesal padanya hingga akhir pelajaran. Dia hanya santai seperti biasa, aku benar-benar heran padanya seharusnya dia menjauhiku setelah kata-kata kasar yang kuucapkan padanya, tapi dia malah menulis no HP nya dan menghubungi HP nya dengan HP ku, ahh pasti dia sekarang juga memiliki no HP ku, dasar… aku akan menghapusnya saat pulang nanti, pikirku. Aku tidak pernah memiliki no HP teman-temanku karena memang aku tidak membutuhkannya dan itu akan sangat mengganggu jika mereka menghubungiku untuk bertanya PR atau yang lainnya, untuk apa mereka berlama-lama di kelas kalau PR saja tidak tahu.
Kenapa hari ini sial terus bagiku, hari ini aku tidak bisa pulang cepat karena harus piket di kelas. Tentu saja aku hanya perlu membersihkan bagianku saja dan pulang secepatnya.
 “ ji eun-na bisakah kau membuang sampahnya setelah ini?” Tanya jiyeon dengan sangat hati-hati padaku.
 “kenapa harus aku?” tanyaku datar.
 “aku minta maaf tapi, ibuku sedang di rumah sakit dan aku sudah berjanji akan pulang cepat, lain kali aku akan mengerjakan tugasmu.” Balasnya kembali dengan agak terbata-bata. “
“baiklah, kupegang janjimu.” Balasku.
“terimakasih ji eun-na.” sambil memelukku karena terlalu bahagia.
Aku hanya menatapnya, dan dia langsung melepas pelukannya sambil meminta maaf dan langsung bergegas pergi dari kelas, dan sekarang sisanya harus kukerjakan sendiri, karena berkat kesepakatan yang kubuat semua orang sudah mengerjakan bagian mereka dan pulang, sekarang aku harus mengerjakan bagian jiyeon, ya tinggal menghapus papan tulis dan membuang sampah sih, jadi tidak akan terlalu lama. Setelah selesai menghapus papan tulis, aku langsung bergegas membuang sampah. Namun saat aku di tangga aku mendengar suara seorang gadis yang sedang mengungkapkan cinta. Ya ampun bodoh sekali, pikirku. Bagaimana bisa seorang gadis menjatuhkan harga dirinya hanya untuk seorang pria yang belum tentu menerimanya dan sudah pasti menurutku tidak mencintainya karena dia harus turun tangan sendiri mengungkapkan cintanya. Kalau laki-laki itu mencintainya sudah pasti dia tidak akan membiarkan perempuan itu menyatakan cinta duluan kan. Sekilas aku melihat wajah perempuan itu dan betapa terkejutnya aku saat kutahu itu adalah senior kami yang sangat cantik dan suka gonta-ganti pacar karena banyak yang ngantri mau jadi pacarnya. Tapi, sekarang dia malah menembak seorang cowok? Hah yang benar saja? Aku saja yang tidak secantik dirinya takkan mau repot-repot melakukan hal itu, pikirku. Aku jadi penasaran lelaki mana yang membuatnya bertekuk lutut begitu, dan aku lebih terkejut lagi bahwa laki-laki itu adalah orang yang sangat kukenal YOO SEUNG HO. Apakah dia memang sepopuler itu, pikirku lagi atau perempuan-perempuan ini memang sudah gila.
“maaf tapi aku tidak menyukaimu” jawa Seungho dingin.
Apa dia sudah gila, pikirku. Wah dia lebih gila lagi karena menolak perempuan yang paling didambakan setiap lelaki di sekolahku.
“kenapa? Apa karena kau sudah punya pacar? Apa kau tidak tahu aku?” balas senior itu yang kukenal dengan nama Myung hee.
“mungkin.” Jawabnya singkat
“siapa dia? Apakah dia lebih cantik dariku? Apa dia sekolah di sini juga?” tanyanya sambil mulai terisak.
“entahlah, kau tidak perlu tahu, itu bukan urusanmu. Lagipula aku menolakmu bukan karena itu.”
“lalu kenapa?” tanyanya lagi, sekarang ia sudah benar-benar menangis. 
Kurangajar sekali kau Yoo seungho, dia bahkan tega sekali, pikirku sambil terus mendengarkan perbincangan mereka. Karena aku tak mungkin berjalan biasa saja melewati mereka di tangga untuk membuang sampah ke bawah. Dasar kenapa mereka harus menyulitkanku, seharusnya aku bisa pulang dengan cepat. Cepatlah sudahi, pikirku sambil menggerutu.
“aku hanya tidak menyukai gadis sepertimu. Sudahlah jangan menangis, aku tidak akan kasihan padamu karena air matamu itu.”
“Tapi….aku sangat menyukaimu”
“itu bukan urusanku, kau tinggal menghilangkan perasaanmu.”
“apa kau pikir semudah itu?”
“bukankah kau juga mengatakan hal itu pada setiap pacarmu saat kau ingin memutuskannya?”
“appp….a?”
“sudahlah hentikan ini, ini bahkan sudah seminggu, aku tidak suka kau menguntitku terus.”
“tapi…..
Kring kring kring… tiba-tiba saja HP ku berbunyi, mereka langsung melihat ke arahku. Aku langsung mengambil Hp ku dari saku rokku dan menjawabnya dengan berlagak santai dan tidak memperdulikan tatapan mereka.
“ne eomma, iya aku akan segera pulang, aku ada piket hari ini…. Iya iya sebentar lagi aku akan pulang.” Sambil terus berjalan melewati mereka di tangga dan turun untuk membuang sampah.
Ketika kembali aku sudah tak melihat mereka ditangga. Baguslah, mereka membuang waktuku saja, kenapa dia harus menyatakan cinta di tangga, kenapa tidak di tempat lain saja. Aku langsung ke kelas untuk mengambil tas dan meletakkan tong sampah di tempatnya lalu bergegas untuk pulang. Kring kring kring… HP ku berbunyi lagi
“ne eomma… aku sudah di jalan mau pulang…” jawabku
“kau lama sekali, cepatlah aku menunggumu di tempat parkir.” Inikan suara si…
Aku langsung melihat layar HP ku dan yang benar saja….
“kenapa bisa kau…”
“cepatlah…” jawabnya sambil mematikan HP.
“apakah kakimu terlalu pendek sehingga memerlukan waktu lebih lama dari kelas ha?” tanyanya saat aku melewati tempat parkir. Aku hanya memasang headset ku dan terus berjalan tanpa memalingkan wajah.
“apa kau akan terus mengacuhkanku?” tanyanya sambil menarik headsetku.
“heyyyy!!!” teriakku…
“ayo kuantar pulang” langsung menarik tanganku dan memasukkanku ke dalam mobilnya.
“apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil berontak ingin keluar. Tapi apa daya, dia lebih kuat dariku. Sebelum kami berlalu aku hanya melihat sekilas bahwa Myunghee sunbae masih di sana melihat ke arah kami dengan tatapan yang sulit kujelaskan.
“pasang sabuk pengamanmu.”perintahnya.
“turunkan aku.” Balasku
“rumahmu dimana?” dia malah tak mendengarkanku
“kubilang turunkan aku!” sekarang aku berteriak padanya.
“kau bahkan sangat tidak sopan sekali kepada orang yang berbaik hati ingin mengantarmu pulang.”
“aku tidak memintamu melakukannya, dan kau bahkan lebih tidak sopan. Bagaimana bisa kau memperlakukan seorang perempuan seperti itu?”
“bagaimana? Apa aku terlalu keras menarikmu tadi? Apa tanganmu sakit?” tanyanya terlihat khawatir sambil meihat tanganku.
“bukan aku, Myung hee sunbae, bagaimana bisa kau menolaknya seperti itu? Kau bahkan tidak peduli saat dia mulai menangis. Dasar… apakah kau benar-benar seorang lelaki?” tanyaku panjang lebar.
“wahhh kau bahkan selalu mengatakan ‘ini bukan urusanmu’ ‘urusi saja urusanmu’ padaku, tapi kau malah mengkhawatirkan dia? Hebat sekali.”
“diam kau….”
“baiklah aku hanya tidak menyukainya”
“tapi kau bisa menolaknya dengan lembut, dia juga perempuan.”
“aku sudah melakukannya, kau pikir ini pertama kalinya aku mendapat pengakuan seperti itu, mereka akan terus mengejarku jika aku menolak dengan lembut, mereka bahkan menguntitku, aku bahkan sudah menolaknya beberapa kali tapi tetap saja dia terus melakukannya. Jika tidak dengan cara kasar agar dia sadar  dan membenciku, lalu dengan cara apalagi?” jelasnya panjang lebar.
Aku hanya terdiam mendengarnya. 
“apakah aku harus belok?”tanyanya
“ha?”
“arah rumahmu?” tanyanya lagi
“ohhh, belok.” Jawabku patuh
“apa kau juga pernah mendapat pengakuan seperti itu? “
“oh” jawabku singkat
“apa yang kau lakukan?”
“aku hanya diam saja dan pergi tanpa menanggapinya”
“wahhh bukankah kau lebih kejam lagi. Lalu surat mereka?”
“hmmm? Kenapa kau tahu kalau banyak yang mengirimiku surat? Bukankah kita tidak sekelas dulu?”
“haa? Oh itu karena aku sering mendengarnya, kau tahu kau sangat populer di kalangan cowok karena sikap dinginmu apalagi kau sangat pintar, bukankah itu sangat didambakan cantik sekaligus jenius”
“begitukah pikiran mereka? Mereka bahkan tidak tahu seberapa keras aku berusaha”
“benarkah? Apakah kau tidak bosan melihat buku-buku itu terus? Bukankah kau perlu sesekali refreshing?”
“aku? Aku tidak membutuhkannya. Aku hanya perlu belajar dan meraih apapun impianku agar kelak aku tidak menyesal”
“kupikir suatu saat kau pasti akan menyesal karena menyia-nyiakan masa muda mu.” Jawabnya sambil tetap memandang jalanan. Aku hanya memandangnya tak mengerti.
“berhentilah, sudah sampai.” 
“benarkah?” lalu dia memberhentikan mobilnya tepat di rumah sederhana keluargaku.
“terimakasih karena sudah mengantarku.” Ucapku
“kau tidak perlu berterimakasih, karena aku juga bisa lolos darinya berkat kau tadi. Jadi ini balasanku.” Jawabnya sambil keluar dari mobil dan menatapku sampai masuk ke dalam rumah. Ini pertamakalinya bagiku berbincang-bincang dengan seseorang selama itu dan dia adalah orang pertama yang tahu rumahku.

“pagi” sapanya padaku dengan senyumnya.
Aku hanya menatapnya sekilas lalu kembali menatap bukuku.
“kau mengacuhkanku lagi?” tanyanya sambil menutup bukuku.
“hiaaa Yoo seung ho, berhentilah.” 
“wae? Kaulah yang berhenti, apa kau tidak bosan selalu membaca buku, belajar, mendengar musik, kau bahkan tidak tahu kalau semua orang ingin berbicara denganku, tapi kau malah mengacuhkanku? Wahhhh”
“yasudah sana kau berbicara dengan mereka.” Sambil mengambil bukuku
“dasar kau ini, aku hanya takut kau kesepian kalau aku pergi.”
“tidak akan”
“yasudah, aku ke belakang sebentar ya.”
Aku hanya diam, dan dia pergi ke belakang menemui teman-teman lelakinya seperti Taemin dan yang lainnya. 
Saat istirahat seperti biasa, aku pergi ke perpus sambil membawa bekalku dan tiba-tiba saja…
“kau mau kemana? Ke perpus lagi?” Seungho berjalan di sampingku
“bukan urusanmu.” Jawabku
“kau membawa bekal?”
“pergilah, orang-orang mulai memperhatikan kita.” Tentu saja aku risih menjadi tontonan karena Seungho yang terus sok akrab denganku, kulihat mata-mata para perempuan itu melirik ke arahku seakan-akan aku telah merebut Seungho mereka.
“abaikan saja, bukankah itu kelahlianmu?” jawabnya tak acuh
Aku hanya langsung mempercepat langkahku dan bergegas pergi ke perpus. Dia terus saja mengikutiku. Sesampainya di perpus aku langsung menuju ke tempat biasaku, di meja tepat dekat jendela, lalu aku membuka bekalku dan memakannya sambil memasang headsetku dan membaca buku. Dia duduk di depanku dan entah berbicara apa, aku sudah tak mendengarnya.
“hiaaa…. Lepaskan itu!” teriaknya sambil melepaskan headsetku
“jangan berisik! Siapa itu?” Tanya guru penjaga perpus
“maaf maaf maaf” jawabnya ke arah guru dan beberapa siswa di sana
“kau sudah gila ya? Bisa-bisanya kau berteriak di sini?” bisikku
“itu karna kau tidak mengacuhkanku dari tadi.” Bisiknya tidak kalah pelan lalu duduk di sebelahku.
“aku mau mencoba bekalmu.” Langsung mengambil sumpitku dan memakan bekalku. “wah enak sekali, siapa yang membuatnya?” lanjutnya.
“aku.” Jawabku singkat sambil merebut sumpitku dan memakan bekalku lagi.
“kau bisa memasak?” tanyanya lagi
Aku hanya mengangguk. “hebat sekali perempuan seusiamu biasanya hanya akan pergi shopping dan menghabiskan uang orangtuanya dan tidak akan pandai apapun soal dapur.” Jelasnya
“mereka hanya akan melakukan les masak saat akan menikah…. Atau apakah kau sudah mau menikah?” selidiknya dengan tatapan curiga ke arahku.
“kau pikir aku perempuan seperti itu?”
“ahhhh tentu saja tidak, melihat kau terus belajar, pacaranpun pasti tidak pernah terlintas dipikiranmu apalagi menikah, mengurus rumahtangga, pasti masih jauh.” Jawabnya dengan panjang lebar. Aku bahkan sampai heran dia mengerti sekali diriku meski kami baru sekelas dan berbincang beberapa kali, dan selalu dia yang terus berbicara, aku hanya akan menjawab seadanya saja. Dia adalah orang yang bertahan lama mendekatiku untuk jadi temanku. Sebenarnya banyak orang yang sudah mendekatiku untuk berteman tapi aku selalu menutup diriku, dan tidak mengacuhkan mereka. Tapi dia, meski aku tak megacuhkannya, meski aku marah padanya, dia selalu mengikutiku, berbicara padaku, sampai aku lelah dan akhirnya menjawabnya. Dia akan senyum penuh kemenangan saat aku menjawab pertanyaannya.
“aku masih mau” dia langsung merebut bekalku yang tinggal sedikit dan menghabiskannya. Aku hanya heran melihatnya dan membiarkannya karena aku juga sebenarnya sudah kenyang dan minum dari tempat minum yang kubawa dari rumah juga. Sebenarnya aku tidak ke kantin bukan karena aku menghindari orang-orang, memang itu adalah salah satu sebabnya aku tidak suka keramaian tapi aku juga ingin menghemat uang jajanku, sehingga di akhir bulan aku bisa membeli buku yang kuinginkan.
“aku haus, kenapa pedas sekali.” Ucapnya sambil merebut tempat minumku dan langsung meminumnya begitu saja. Aku hanya menatapnya heran.
“apa yang kau lakukan? “
“aku hanya minum? Apa aku tidak boleh meminta minummu? Apa kau sepelit itu?”
“bukan itu maksudku, tapi…. Ahhh entahlah” jawabku kesal
“apakah mereka benar-benar pacaran?” kudengar seseorang berbisik di belakang kami
“bahkan mereka minum dari tempat yang sama. Bukankah ini gosip yang menghebohkan akhirnya Jieun sunbae yang sedingin es punya pacar apalagi pacarnya Seungho sunbae yang sangat populer.”
“wahhh hebat sekali, kudengar Seungho sunbae kemaren bahkan menolak Myung hee sunbae?” lanjut mereka.
“benarkah? Apakah karena Jieun sunbae?” 
“kami bisa mendengarnya” balas Seungho sambil melirik ke arah belakang
“maaf sunbae…” jawab mereka sambil berlalu
“ayo ke kelas sudah mau masuk” ucapnya padaku 
“apa kau punya tujuan tertentu padaku?” tanyaku padanya sambil membereskan tempat makanku.
“apa maksudmu? Apakah aku harus punya alasan untuk berteman denganmu?”
“semua orang seperti itu, mereka saling memanfaatkan, mereka hanya berteman untuk hal-hal tertentu. Lalu kau apa yang kau inginkan dariku? Bukankah kau juga pintar? Itu berarti kau tidak butuh teman untuk saling mencontek saat ujian. Kau juga populer, itu berarti kau punya banyak sekali yang ingin berteman denganmu. Kau juga kaya, itu berarti kau tidak berteman untuk materi lagipula kau juga tahu aku bukan orang yang bisa kau poroti kau bahkan sudah melihat rumahku. Lalu kenapa?”
“hhhhh apakah begitu menurutmu?” dia tersenyum masam ke arahku, ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum seperti itu kepadaku. “pantas saja kau tidak pernah punya teman. Kau selalu mengukur semua orang. Kau tidak pernah melihat ketulusannya. Apa kau pikir semua orang seperti yang ada dipikiranmu?” lanjutnya
“sejauh ini, semuanya sama saja bagiku.”
“Kau tidak ingin berteman denganku kan? baiklah terserah padamu.” Jawabnya sambil berdiri dan bergegas ke kelas. 
Sesampainya di kelas dia tidak seperti biasanya, dia hanya diam dan tidak mengajakku bicara sama sekali. Saat pergantian pelajaran dia pergi ke belakang menemui Taemin dan yang lainnya, biasanya dia bahkan selalu meminta izinku meskipun tak kuacuhkan. Tapi sejak saat itu dia tak pernah lagi berbicara padaku seperti biasanya, dia hanya berbicara seadanya. Dia sama saja dengan yang lainnya meski agak lama tapi akhirnya dia akan pergi juga, pikirku. Tapi entah kenapa kali ini ada perasaan bersalah dalam diriku.
Hari ini aku pulang lebih cepat meskipun ini hari piketku karena Jiyeon sudah janji akan menyelesaikan bagianku. Aku pulang seperti biasanya.
Keesokan harinya aku sampai di kelas dengan semua orang yang memandang dan menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku tak mengacuhkannya, aku hanya duduk di kursiku dan mengambil bukuku sambil memasang headsetku seperti biasa.
“berhentilah bersikap seperti itu.” Teriak Hani sambil menarik headsetku.
“apa kau tahu ibu Jiyeon meninggal, dan ia bahkan tak bisa melihat ibunya di saat terakhir. Apa kau tahu itu adalah karenamu.” Lanjutnya.
“apa maksudmu?” tanyaku dengan santai dan ekspresi datarku.
“kau menyuruhnya mengerjakan bagian piketmu sehingga dia tidak bisa pulang cepat dan menemui ibunya..” sambung Jun hee sambil ke mejaku
“dia yang berjanji padaku untuk melakukannya.” Jawabku
“wahhh lihatlah kau bukan hanya dingin tapi juga tidak punya perasaan, bagaimana bisa kau membiarkannya melakukan itu saat ibunya sedang sekarat di rumah sakit.” Balas Hani lagi
“mana kutahu kalau…
Belum selesai aku berbicara seseorang melemparku dengan susu
“ooppsss sorry, aku tak sengaja.” Kulihat kearahnya dan ternyata itu adalah Yoon ah.
“itu memang pantas untukmu.” Junhee mengambil susu di lacinya dan menumpahkannya padaku. “sekarang lega rasanya melihatmu seperti ini, kau tahu aku sudah menahannya selama ini.” Lanjutnya. “kau mengabaikan semua orang, kau pikir kau bisa selamanya sendiri ha?” sambungnya kemudian. Anak-anak yang lain hanya diam dan terheran-heran melihat mereka yang begitu berani menyudutkanku, kadang aku mendengar mereka berbisik mengasihaniku da nada juga yang mengatakan itu pantas untukku, aku bahkan mendengar ada yang mengatakan ‘lihatlah dia bahkan tak semenakutkan yang kita kira, dia tak berkutik sekarang, hahaha’, ‘lihatlah dia bahkan tak punya teman untuk membelanya lagipula siapa suruh terus mengabaikan kita’. 
Aku hanya diam menahan amarahku. Ak bisa saja melawan mereka tapi aku tahu semakin kulawan, mereka akan semakin menjadi-jadi. Lalu aku berdiri untuk keluar kelas, tapi tiba-tiba…
“kami belum selesai alone girl” sambung Hani sambil melempariku dengan susu diikuti beberapa orang lainnya. Aku hanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya aku berlari tapi entah kenapa kakiku bahkan sulit untuk kugerakkan, aku ingin menangis tapi ini terlalu sakit untuk kutangisi. Aku sangat terkejut dengan semua ini, aku selalu menjaga jarak dengan mereka dan tak pernah ada yang berani padaku tapi sekarang mereka…. 
“kenapa kau diam saja? Pergi sana” tiba-tiba saja Seungho sudah ada di depan kelas menghalangi setiap lemparan susu itu ke arahku. Aku masih tetap diam tak berkutik menatapnya. Semua orang yang melihat hal itu menghentikan aksinya.
“Seungho-ya…” ucap Hani “apa yang kau lakukan?”
“apa yang kalian lakukan ha?!” teriaknya…
“ kau tidak perlu membela gadis tidak berperasaan itu, gara-gara dia Jiyeon tidak berada di sisi ibunya saat ibunya meninggal.” Sekarang Yoon ah yang menjawab
“lagi pula dia tidak pernah kan menghargaimu bagaimanapun kau terus ingin berteman dengannya.” Sambung Wohyun
“KUBILANG HENTIKAN!!!” teriaknya yang membuat seisi kelas terdiam. “kalian tidak berhak memperlakukannya seperti ini, kalian tidak lebih baik darinya. Kalau kalian tahu ibunya Jiyeon seperti itu kenapa kalian tidak menggantikan dia piket, kenapa kalian tidak menemaninya? Kalian bahkan mengatakan kesana-sini bahwa kalian adalah temannya. Lalu sekarang kalian menyalahkan Jieun atas semua itu? Dia bahkan tak berkedok dengan kata ‘teman’ yang kalian banggakan itu, lalu kenapa sekarang semua salahnya? Apakah hanya ini yang bisa kalian lakukan sekarang?  Kalian sangat keterlaluan.” Setelah selesai bicara dia langsung menarik tanganku dan membawaku ke UKS untuk mengganti baju dan menenangkan diri.
“kenapa kau hanya diam saja tadi? Seharusnya kau menelponku saat kau dalam masalah.” Ucapnya saat kami sudah berganti pakaian dan duduk di ruang UKS karena guru yang menjaga UKS pergi untuk mengurus keperluan tertentu setelah memberikan seragam cadangan kepada kami.
“aku hanya…… aku…” aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku merasakan air bening keluar dari pelupuk mataku. Aku hanya terdiam namun air itu terus mengalir semakin deras, sepertinya aku benar-benar shock akan kejadian ini.
“menangislah, aku akan menemanimu.” Sambil duduk di sampingku dan meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Aku mulai terisak. Rasanya seperti semua bebanku terangkat, sudah lama sekali aku tidak menangis seperti ini, selama ini semuanya selalu kutahan karena aku tak ingin terlihat lemah di depan ibuku, di depan orang lain, dan di depan diriku sendiri.
Setelah menangis aku tidak sadar kalau aku tertidur di pelukannya. “aku benar-benar tulus Jieun-na” aku hanya mendenger itu sekilas, entah itu mimpi atau kenyataan tapi itu menenangkan untuk didengar disaat seperti ini. Dan saat bangun kulihat dia juga tertidur di kursi dengan membenamkan kepalanya di tempat tidurku.
Author POV
Jieun meninggalkan Seungho yang masih tertidur di UKS, dia memasuki ruang kelas untuk mengambil tasnya dan bergegas untuk pulang karena pelajaran sudah berakhir sejak sejam yang lalu. Namun, ia tak melihat tasnya di sana jangankan tasnya kursi dan mejanya pun sudah tak ada lagi di sana, ia hanya menemukan secarik kertas yang memberitahukan bahwa tasnya ada di gudang. Ia sempat berpikir kalau memang mereka menyembunyikan tasnya kenapa harus diberitahukan kepadanya? Ini pasti bagian dari rencana mereka, pikirnya. Tapi apa boleh buat ia hanya bisa mengikutinya karena ia harus mendapatkan tasnya dan segera pulang, ia harus benar-benar mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi kemungkinan apapun yang akan terjadi nantinya.
Jieun langsung masuk ke dalam gudang yang pintunya sudah terbuka itu, ia melirik ke kanan dan kekiri tapi tak ada satupun orang di sana. Lalu dengan langkah hati-hati ia pun memasuki gudang dan melihat tasnya di pojok kanan gudang tersebut. Di sana banyak kursi dan meja yang sudah rusak dan tidak terpakai lagi, ia bisa mengenali mejanya karena ada tasnya di atas meja itu. Namun tiba-tiba pintu gudang tersebut dikunci dari luar.
Ji eun POV
“hey siapa itu?” teriakku sambil berlari ke arah pintu gudang yang sudah tertutup rapat.
“rasakan itu… makanya jangan sok cantik.” Kudengar suara Myung hee sunbae
Ternyata mereka bersekongkol dengan Hani dan yang lainnya, tapi kenapa? Diakan bukan temannya Jiyeon.
“kuingatkan padamu untuk menjauhi Seungho, jika tidak maka hal-hal yang lebih buruk akan terjadi padamu!” lanjut Myung hee sunbae
“Apa yang kalian lakukan? Keluarkan aku dari sini.” Teriakku lagi
“maaf putri es sepertinya kau harus bermalam di sini.” Jawab Hani 
Lalu kudengar langkah-langkah itu menjauh, mereka benar-benar meninggalkanku di gudang gelap ini. Gelap…. Hal yang paling kubenci adalah gelap…..
 seharusnya kau menelponku jika kau dalam masalah 
aku ingat perkataan Seungho tadi saat di UKS. Aku langsung mengambil HP ku untuk menghubunginya karena dari sekian banyak orang di sekolah ini aku hanya memiliki no nya. Aku menghubungi no itu berkali-kali namun tidak dijawab. Apa dia masih tidur, pikirku. Aku harus bagaimana? Ibu… tidak mungkin aku membuat ibu khawatir. Aku langsung mengirim pesan ke HP Seungho, setidaknya saat dia bangun atau saat membuka HP dia bisa melihat pesanku, entah kapanpun itu yang penting dia bisa mengeluarkanku dari tempat gelap ini.

BENALU

Hari ini masih terasa berat bagiku, permintaan mama masih selalu terngiang-ngiang di telingaku. Aku teringat percakapan kami seminggu yang lalu.
“Mama punya teman akrab waktu kuliah dulu, dan kamu tau kan kami dulu pernah janji kalau punya anak kelak akan kami jodohkan.” Tutur mama mengawali penderitaan yang kurasakan sekarang. Saat itu aku hanya berpikir santai, ya palingan nanti aku di kenalin sama anaknya teman mama lalu kalau aku merasa gak cocok gak mungkin kan dipaksa. Lagian teman mama kan di Medan sedangkan aku SMA di Sibolga, jadi pasti susah ketemunya, dan aku menyimpulkan bahwa perjodohan ini pasti gak akan berhasil lagipula cowok kan susah diatur, ya otomatis gak mungkin lah dia mau-mau aja dijodohin sama orang yang gak dia kenal. Iya kan? Apalagi aku masih SMA.
“oh, yaudah memangnya kapan mama mau ketemu teman mama plus anaknya? Tanyaku kemudian.
“kemaren mama ditelpon sama suaminya katanya teman mama lagi di rumah sakit dan dia di diagnosis menderita kanker payudara stadium akhir Vi.”
“oh ya? Jadi gimana dong ma? Mama gak jenguk tante itu?” tanyaku. Meskipun aku turut prihatin namun ada sedikit rasa bahagia yang kurasa karena perjodohanku pasti dibatalkan atau setidaknya pasti diundur
“ Ya, mama akan jenguklah. Minggu depan kamu mama jemput ya, dan kita sama-sama ke Medan sambil mengenalkan kamu sama anak tante Maya.”
“ apa? Tapi Vivi kan sekolah ma.” Elakku
“Mama udah izinin kamu sama guru teman mama di sekolah kamu.”
“tapi kan ma…”
“Tolonglah Vi, kali ini aja. Coba kamu yang di posisi mama.” Potong mama sambil memohon pengertianku.
“Iyadeh ma.” Pasrahku
Sekarang disinilah aku, di teras kosku menunggu jemputan mama yang katanya akan datang sejak sejam yang lalu. Sejak tadi aku telepon selalu saja jawabnya sebentar lagi, akhhh kesal sekali rasanya dasar mama gak bisa ontime banget sih, gerutuku dalam hati. Mama akan datang bersama Papa dan dua adikku yang satu laki-laki yang hanya beda dua tahun dariku dan satu lagi perempuan yang masih sangat kecil kira-kira beda 14 tahun dariku. Sebenarnya kami sudah sangat lama tidak bertemu dengan keluarga tante Maya, padahal waktu aku berumur kira-kira empat tahun, kami sering berkunjung ke Medan setiap libur atau keluarga tante Maya yang mengunjungi kami di desa Cerana. Tapi entah kenapa semenjak aku sakit karena terjatuh, kami sudah tidak pernah lagi saling bertemu. Tapi entahlah, aku masih sangat kecil saat itu, bahkan penyebab aku terjatuhpun aku sudah tidak ingat, yang kuingat hanyalah aku sangat takut ketinggian sejak saat itu.
Akhirnya mobil yang kutunggu datang juga. Papa membuka kaca jendela dan menyuruhku langsung masuk ke mobil. Dengan muka masam aku langsung masuk dan duduk bersebelahan dengan kedua adikku yang ternyata sudah terlelap, mereka pasti sangat capek setelah melewati perjalanan 7 jam dari desaku.
 “ Sorry ya Vi, tadi Papa kamu kecapean jadi kita berhenti dulu untuk makan dan solat, oh iya kamu udah makan?” Tanya Mama dengan hati-hati.
“ya belumlah. Mama sih bilangnya bentar lagi terus dari tadi, Vivi udah jamuran nih nunggunya.” Gerutuku.
“Ya udah nih Mama beliin keripik sambal kesukaan kamu.” Tawar Mama.
“Dasar Mama….. Vivi kan belum selesai marahnya, kok udah di sogok sih…” sambil mengambil keripik di tangan Mama.
“Hahaha dasar kamu ini, yaudah marah aja sambil makan.” Ejek Papa.
Ya begitulah keluargaku, aku adalah orang yang paling mudah ngambek dan paling mudah dibujuk apalagi lewat kripik sambal, pasti acara ngambek dan marahku langsung gagal, aku juga banyak mintanya ke orangtua mulai dari gudget barulah, laptop barulah, uang bulanan ditambahlah, dan lain-lain sebagainya, dan kedua orangtuaku selalu percaya padaku dan memberikan semua yang kuminta meski kadang udah nangis darah baru dikasih (haha alay).  Hal ini sangat bertolak belakang dengan Raka adek cowokku yang paling gokil dan selalu mengalah, dia tidak pernah protes aku dibeliin apa aja sedangkan dia tidak, dia tidak pernah protes meskipun uang jajanku dua kali lipat bahkan lebih dari uang jajannya, mungkin dia mengerti akan perbedaan itu dikarenakan aku sekolah di SMA favorit yang gaya hidupnya sangat berbeda dari desaku, apalagi dia masih SMP. Aku sangat iri padanya, Mama dan Papa tidak pernah mengizinkan dia untuk pergi jauh-jauh dari mereka, dia SMP pun di sana padahal aku mati-matian meminta Papa agar membolehkanku untuk SMP di desaku saja agar tidak berpisah dari teman-teman SD ku tapi Papa dan Mama tidak membolehkannya, aku malah disuruh ke SMP di kota yang menempuh waktu empat jam dari desaku. Jika ditanya siapa diantara kami berdua yang lebih disayang oleh orangtuaku, tentu saja jawabannya pasti Raka meskipun aku tahu didepan kami pasti mereka bilang ‘semua sama saja, kasih sayang orangtua itu sama kepada semua anaknya’ tapi tentu saja mereka lebih dekat dengan Raka karena sejak SMP aku sudah tinggal dengan nenek dari Papa di kota dan SMA aku kos di Sibolga, sedangkan Raka tidak dibolehkan sekolah jauh-jauh padahal diakan anak cowok. Meskipun demikian aku sangat menyayangi Raka, karena sejak kecil kami selalu bersama apalagi sebelum ada Nana.
***

TBC....

Tunggu part selanjutnya ya...😊